Minggu, Oktober 01, 2017

Me and Realita seorang sarjana





Sumber gambar : google

Me adalah saya, hehe.So, Who Am I?, Actually i am an ordinary person, nothing special. Kenyataan bahwa saya tidak memiliki a good job, much money, briliant achievement atau punya group sosialita dengan sekian ribu follower adalah sebagai bukti kalau saya adalah orang biasa – biasa saja.

Semua yang saya sebutkan diatas adalah standar sukses dari kacamata masyarakat jaman sekarang, orang menyebutnya generasi melineal. ( benar gak sih penulisannya?)

Lalu, apakah saya tidak berusaha menyesuaikan standar tersebut dengan kehidupan saya?  Of course i try it, but it’s not work for me.

Kalau membahas tentang a goodjob, saya pernah punya. Duduk manis di belakang meja, bekerja dengan komputer, setelan rapi, gaji ok, boss baik, rekan kerja friendly,suasana kantor nyaman,, oho.... itu hanya dunia hayal, ga ada di dunia nyata.

Di dunia nyata adalah mata perih, bosan, hidup tidak berkembang, gaji pas pasan, bos seenaknya sendiri, rekan kerja saling menjatuhkan, suasana kerja gak kondusif n bla bla.

Ketika saya meninggalkan pekerjaan seperti ini maka orang lain melihat dan berpendapat bahwa saya adalah orang yang banyak mengeluh, tidak tabah, manja, tidak memiliki semangat juang dan banyak lagi judgement negatif lainnya. Tentu saya menghargai pendapat mereka, semua orang melihat segala sesuatu dari sisi yang ingin mereka lihat dan memandang segala sesuatu dengan  cara yang biasa mereka gunakan.

Terlepas dari itu semua, saya berusaha kembali mengumpulkan puing – puing kepercayaan diri bahwa saya tidak sepengecut yang mereka deskripsikan secara tidak lansung di depan kepala saya, dan mereka ucapkan secara lugas dibelakang kepala saya. Memang sulit dan butuh waktu satu tahun untuk saya menyadari bahwa yang saya lakukan sudah benar, alih alih menghabiskan waktu menyesalinya.

Saya berfikir ulang, kenapa saya tidak nyaman dengan pekerjaan kantoran seperti itu? Bukankah semua orang melewatinya kenapa saya tidak berhasil?

Saya adalah seorang sarjana Fisika murni, nothing have basic as an Administration. Meski pada awalnya saya tidak menyukai jurusan yang saya ambil, namun selama empat tahun kuliah di fakultas MIPA telah membentuk pola pikir saya. Jadi apa yang bisa saya lakukan?

Saya bisa jadi pengajar, saya pernah mencobanya di tahun 2015 dan itu menyenangkan. Tapi orientasi saya saaat itu adalah uang, mengajar tidak membuat deposito saya gendut (pemikiran kerdil dan memalukan yang sangat – sangat saya sesali). Namun setelah saya mencampakkan kehormatan untuk menjadi seorang guru, sekarang terasa sulit untuk mendapatkannya kembali. But, no problem, saya akan terus mencoba.

Saya bisa melanjutkan study seperti teman teman baik saya yang lainnya. Kabar baiknya ada juga beasiswa untuk mendanai kuliah Magister tersebut, saya yakin dengan usaha dan kerja keras saya akan memperoleh beasiswa tersebut.

Namun ada hal lain yang harus saya pertimbangkan, saya adalah seorang perempuan. Ada batasan batasan untuk perempuan. Batasan yang saya maksudkan adalah tentang umur. Umur saya pada akhir tahun 2016 terhitung di KTP dan IJAZAh adalah 25 tahun. Orangtua saya menginginkan saya untuk menikah secapatnya ditengah melayangnya sebuah lamaran ke telinga mereka.

Mungkin karena tidak sepenuh hati dan tidak memperolleh ridho orangtua saya gagal sebelum berperang mengikuti tes beasiswa. Hasil tes Toefl saya tidak mencukupi untuk mendaftar, dan kabar buruknya seleksi beasiswa LPDP pada tahun ini hanya dilaksanakan 1 kali dalam setahun. It’s mean saya harus mencoba lagi di 2018,dan kalau lulus maka saya akan kuliah di 2019.

Ada juga seorang teman pernah bertanya,kenapa saya tidak meminta pekerjaan yang bagus kepada saudara2 saya. Dikacamata orang banyak mungkin saya dapat dengan mudah melakukan itu. But, it’s imposible untuk dilakukan. Meskipun saya menangis dengan mengeluarkan airmata darah, i can’t get it. Believe or not, it’s a fact dan saya mencoba menghormati dan memahami keputusan mereka.

Pernah juga saya mencoba bekerja sebagai lulusan SMA, bekerja di sebuah Optik. Pemiliknya adalah orang Minang, but percaya atau gak punya bos orang minang itu 11 12 sama punya bos orang cina (i know it, karena saya pernah bekerja pada keduanya).

Lalu apa realita seorang sarjana, menurut kacamata saya sarjana sekarang  tidak ubahnya seperti tamatan SMA di tahun 2000 an. Kalau tidak percaya boleh saja membuka lembaga survei , berapa jumlah sarjana penganggungaran di tahun 2017. (ini hanya pendapat pribadi berdasarkan pengamatan di lapangan, saya samasekali tidak pernah membaca hasil lemabaga survei manapun,, dan saya sungguh berharap pendapat saya ini 100 % salah, he he he).

Kenapa mereka para sarjana melabelkan diri atau dilabeli sebagai pengangguran, karena dimata orang banyak bekerja itu adalah ketika seorang sarjana menjadi tenaga kerja atau pekerja atau bekerja untuk instansi pemerintahan maupun swasta atau secara sarkastis orang orang tertentu menyebutnya sebagai anak buah orang.

Bukankah berfikir seperti itu dan tenggelam dalam paradigma orang banyak adalah cara berfikir primitive. Tentunya para sarjana dapat berfikiran sedikit lebih terbuka (terutama diri saya sendiri) bahwasanya kita memiliki ilmu dan pengalaman yang lebih. Lalu kenapa kita memilih berkerja untuk orang lain, sementara banyak sekali kita membaca biografi pengusaha bahwasanya mereka para pengusaha jarang sekali memiliki ijazah dan pendiidkan tinggi?

Semua pertanyaan itu dikembalikan kepada diri masing masing, sebab semua kita memiliki cara berfikir, sudut pandang dan orientasi yang berbeda beda.

Namun jika seandainya saya menjadi seorang mentri pendidikan sautu hari kelak (mimpi kali ye,,,,semua berawal dari mimpi juga kali ye,, )maka saya akan menjadikan matakuliah strategi manajemen dan bisnis dalam setiap jurusan menjadi matakuliah wajib selama 4 tahun. Tentunya bukan sekedar berbentuk teori saja.
Kalaupun saya hanya mimpi menjadi mentri pendidikan, maka saya berjanji (dengan diri sendiri) untuk menanamkan jiwa berusaha dan mandiri kepada anak –anak saya kelak. (hi hih hi hi )

Let’s back to me and age and women
How Old Are me in 2017?

Sebagai anak paling kecil saya menadapati kekhawatiran orangtua saya tentang pernikahan adalah sesuatu yang wajar. Mereka tentu ingin menikmati masa tua mereka tanpa harus stress memikiran beban untuk menikahkan anak gadis bungsunya.

Secara naluriah saya juga memiliki obsesi menjadi great wife best mom, saya juga ingin menjalani kehidupan sebagai seorang istri mengurus suami, sebagai ibu mengasuh dan mendidik anak serta memiliki penghasilan.

So, saya kembalikan pilhan kepada pembaca (bagi yang sempat membaca). Bahwa kita selalu memiliki pilihan dan stop untuk melihat dan mengiri kesuksesan orang lain, mulailah kesuksesan diri kita sendiri dengan cara kita sendiri.

Tulisan ini cukup berantakan (karna ditulis ketika insomnia melanda). Tuliasan ini ditulis oleh si penggemar Taylor Swift, si pemilik ion positif (untuk menetralkan ion negatif,, heheh ga nyambung) dan asli pendapat pribadi. Jika ada yang tidak sependapat dan ingin mengajukan masukan, penulis akan dengan senang hati menampung semua aspirasi di kolom komentar.


Sekian, Terimakasih. Thanks A Bunch.

Me and Realita seorang sarjana

Sumber gambar : google Me adalah saya, hehe.So, Who Am I ?, Actually i am an ordinary person, nothing special . Kenyataan bahwa...