Sumber gambar : google
Me adalah saya, hehe.So, Who Am I?, Actually i am an ordinary person, nothing special. Kenyataan bahwa
saya tidak memiliki a good job, much
money, briliant achievement atau punya group sosialita dengan sekian ribu follower adalah sebagai bukti kalau saya
adalah orang biasa – biasa saja.
Semua yang saya sebutkan diatas adalah standar sukses dari kacamata
masyarakat jaman sekarang, orang menyebutnya generasi melineal. ( benar gak sih
penulisannya?)
Lalu, apakah saya tidak berusaha menyesuaikan standar
tersebut dengan kehidupan saya? Of course i try it, but it’s not work for me.
Kalau membahas tentang a
goodjob, saya pernah punya. Duduk manis di belakang meja, bekerja dengan
komputer, setelan rapi, gaji ok, boss baik, rekan kerja friendly,suasana kantor
nyaman,, oho.... itu hanya dunia hayal, ga ada di dunia nyata.
Di dunia nyata adalah mata perih, bosan, hidup tidak
berkembang, gaji pas pasan, bos seenaknya sendiri, rekan kerja saling
menjatuhkan, suasana kerja gak kondusif n bla bla.
Ketika saya meninggalkan pekerjaan seperti ini maka orang
lain melihat dan berpendapat bahwa saya adalah orang yang banyak mengeluh,
tidak tabah, manja, tidak memiliki semangat juang dan banyak lagi judgement negatif lainnya. Tentu saya
menghargai pendapat mereka, semua orang melihat segala sesuatu dari sisi yang
ingin mereka lihat dan memandang segala sesuatu dengan cara yang biasa mereka gunakan.
Terlepas dari itu semua, saya berusaha kembali mengumpulkan
puing – puing kepercayaan diri bahwa saya tidak sepengecut yang mereka
deskripsikan secara tidak lansung di depan kepala saya, dan mereka ucapkan
secara lugas dibelakang kepala saya. Memang sulit dan butuh waktu satu tahun
untuk saya menyadari bahwa yang saya lakukan sudah benar, alih alih
menghabiskan waktu menyesalinya.
Saya berfikir ulang, kenapa saya tidak nyaman dengan
pekerjaan kantoran seperti itu? Bukankah semua orang melewatinya kenapa saya
tidak berhasil?
Saya adalah seorang sarjana Fisika murni, nothing have basic as an Administration.
Meski pada awalnya saya tidak menyukai jurusan yang saya ambil, namun selama
empat tahun kuliah di fakultas MIPA telah membentuk pola pikir saya. Jadi apa
yang bisa saya lakukan?
Saya bisa jadi pengajar, saya pernah mencobanya di tahun 2015
dan itu menyenangkan. Tapi orientasi saya saaat itu adalah uang, mengajar tidak
membuat deposito saya gendut (pemikiran kerdil dan memalukan yang sangat –
sangat saya sesali). Namun setelah saya mencampakkan kehormatan untuk menjadi
seorang guru, sekarang terasa sulit untuk mendapatkannya kembali. But, no problem, saya akan terus
mencoba.
Saya bisa melanjutkan study
seperti teman teman baik saya yang lainnya. Kabar baiknya ada juga beasiswa
untuk mendanai kuliah Magister tersebut, saya yakin dengan usaha dan kerja
keras saya akan memperoleh beasiswa tersebut.
Namun ada hal lain yang harus saya pertimbangkan, saya adalah
seorang perempuan. Ada batasan batasan untuk perempuan. Batasan yang saya
maksudkan adalah tentang umur. Umur saya pada akhir tahun 2016 terhitung di KTP
dan IJAZAh adalah 25 tahun. Orangtua saya menginginkan saya untuk menikah
secapatnya ditengah melayangnya sebuah lamaran ke telinga mereka.
Mungkin karena tidak sepenuh hati dan tidak memperolleh ridho
orangtua saya gagal sebelum berperang mengikuti tes beasiswa. Hasil tes Toefl saya tidak mencukupi untuk
mendaftar, dan kabar buruknya seleksi beasiswa LPDP pada tahun ini hanya
dilaksanakan 1 kali dalam setahun. It’s
mean saya harus mencoba lagi di 2018,dan kalau lulus maka saya akan kuliah
di 2019.
Ada juga seorang teman pernah bertanya,kenapa saya tidak
meminta pekerjaan yang bagus kepada saudara2 saya. Dikacamata orang banyak
mungkin saya dapat dengan mudah melakukan itu. But, it’s imposible untuk dilakukan. Meskipun saya menangis dengan
mengeluarkan airmata darah, i can’t get
it. Believe or not, it’s a fact dan saya mencoba menghormati dan memahami
keputusan mereka.
Pernah juga saya mencoba bekerja sebagai lulusan SMA, bekerja
di sebuah Optik. Pemiliknya adalah orang Minang, but percaya atau gak punya bos orang minang itu 11 12 sama punya
bos orang cina (i know it, karena saya
pernah bekerja pada keduanya).
Lalu apa realita seorang sarjana, menurut kacamata saya
sarjana sekarang tidak ubahnya seperti
tamatan SMA di tahun 2000 an. Kalau tidak percaya boleh saja membuka lembaga
survei , berapa jumlah sarjana penganggungaran di tahun 2017. (ini hanya
pendapat pribadi berdasarkan pengamatan di lapangan, saya samasekali tidak
pernah membaca hasil lemabaga survei manapun,, dan saya sungguh berharap
pendapat saya ini 100 % salah, he he he).
Kenapa mereka para sarjana melabelkan diri atau dilabeli
sebagai pengangguran, karena dimata orang banyak bekerja itu adalah ketika
seorang sarjana menjadi tenaga kerja atau pekerja atau bekerja untuk instansi
pemerintahan maupun swasta atau secara sarkastis orang orang tertentu menyebutnya
sebagai anak buah orang.
Bukankah berfikir seperti itu dan tenggelam dalam paradigma
orang banyak adalah cara berfikir primitive. Tentunya para sarjana dapat
berfikiran sedikit lebih terbuka (terutama diri saya sendiri) bahwasanya kita
memiliki ilmu dan pengalaman yang lebih. Lalu kenapa kita memilih berkerja
untuk orang lain, sementara banyak sekali kita membaca biografi pengusaha
bahwasanya mereka para pengusaha jarang sekali memiliki ijazah dan pendiidkan
tinggi?
Semua pertanyaan itu dikembalikan kepada diri masing masing,
sebab semua kita memiliki cara berfikir, sudut pandang dan orientasi yang
berbeda beda.
Namun jika seandainya saya menjadi seorang mentri pendidikan
sautu hari kelak (mimpi kali ye,,,,semua berawal dari mimpi juga kali ye,,
)maka saya akan menjadikan matakuliah strategi manajemen dan bisnis dalam setiap
jurusan menjadi matakuliah wajib selama 4 tahun. Tentunya bukan sekedar berbentuk
teori saja.
Kalaupun saya hanya mimpi menjadi mentri pendidikan, maka
saya berjanji (dengan diri sendiri) untuk menanamkan jiwa berusaha dan mandiri
kepada anak –anak saya kelak. (hi hih hi hi )
Let’s back to me and
age and women
How Old Are me in 2017?
Sebagai anak paling kecil saya menadapati kekhawatiran
orangtua saya tentang pernikahan adalah sesuatu yang wajar. Mereka tentu ingin
menikmati masa tua mereka tanpa harus stress memikiran beban untuk menikahkan
anak gadis bungsunya.
Secara naluriah saya juga memiliki obsesi menjadi great wife best mom, saya juga ingin
menjalani kehidupan sebagai seorang istri mengurus suami, sebagai ibu mengasuh
dan mendidik anak serta memiliki penghasilan.
So, saya kembalikan pilhan kepada
pembaca (bagi yang sempat membaca). Bahwa kita selalu memiliki pilihan dan stop
untuk melihat dan mengiri kesuksesan orang lain, mulailah kesuksesan diri kita
sendiri dengan cara kita sendiri.
Tulisan ini cukup berantakan (karna ditulis ketika insomnia melanda).
Tuliasan ini ditulis oleh si penggemar Taylor Swift, si pemilik ion positif
(untuk menetralkan ion negatif,, heheh ga nyambung) dan asli pendapat pribadi. Jika
ada yang tidak sependapat dan ingin mengajukan masukan, penulis akan dengan
senang hati menampung semua aspirasi di kolom komentar.
Sekian, Terimakasih. Thanks A Bunch.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar